HUMAN RESOURCE MANAGEMENT (HRM)

WASPADAI KONFLIK DITEMPAT KERJA

 

Conflict is neither good nor bad. Properly man­aged, it is absolutely vital. “

—Kenneth Kaye

Bahwa yang namanya konflik dimanapun itu pasti tidaklah baik atau bisa dikatakan jelek. Tetapi mengelola konflik secara tepat adalah sesuatu yang vital.

Konflik seolah tumbuh subur hampir diseluruh dunia, termasuk negara kita Indonesia tercinta ini. Hampir tiap hari tayangan di Televisi selalu memblow up konflik yang terjadi hampir disemua daerah. Apalagi menjelang dan selama Pilkada DKI Jakarta, konflik yang sangat kental berbau Suku Agama Ras dan Aliran (SARA).

Bagaimana dengan ditempat kerja ?

Televisi, media Sosial semuanya berusaha memblow up tayangan konflik. Hal ini ternyata mampu menghipnosis hampir semua penduduk di Indonesia dan bahkan dunia, untuk turut larut dalam konflik yang terjadi disekitarnya, karena perbedaan pandangan yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan.

Orang tidak menyadari bahwa sebenarnya pikiran mereka sedang dikuasai oleh suatu Hukum Tarik menarik (The law of attraction) yang sangat penuh dengan emosi, yang bernama konflik. Dan Gelombang Elektromagnetik negatif yang bernama KONFLIK ini ternyata telah menguasai pikiran hampir semua orang.

Satu hal yang perlu diwaspadai, peristiwa atau kejadian saat ini telah meyakinkan bahwa kita sedang hidup di suatu waktu ketika, “jika konflik tidak terjadi maka, seseorang akan dengan mudah menemukan cara untuk tidak setuju terhadap apapun yang telah diputuskan atau justru mengganggu apa yang sedang atau telah diputuskan oleh organisasi. Ujung-ujungnya konflik juga yang akan terjadi”.

Akibatnya ditempat kerja pun sangat rentan terjadi konflik, baik antar teman sejawat, antara atasan dan bawahan, antara Bagian satu dengan Bagian lainnya, dan sebagainya.

35780-bagaimana-menyelesaikan-konflik-di-tempat-kerja

Sebagai seorang karyawan, umumnya Anda menghabiskan sekitar 8 jam untuk bekerja. Suka atau tidak suka, sejumlah masalah yang berpotensi menyebabkan terjadinya konflik, akan muncul saat Anda bekerja. Tentunya setiap masalah tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Mengapa ? ketika Anda membiarkannya maka akan timbul masalah-masalah baru sehingga Anda semakin terjerembab pada kubangan masalah. Dan pada akhirnya menyulut terjadinya konflik baik inter maupun intrapersonal.

Apa dan bagaimana konflik terjadi ?

Ilustrasi-penyebab-konflik-karyawan

Konflik, dapat dengan mudah diuraikan sebagai perbedaan pendapat antara dua atau lebih pihak yang membawa kepada  kondisi saling menolak atau saling menyanggah. Taquiri dalam Newstrom dan Davis(1977)  menyatakan konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang dapat terjadi dalam berlbagai keadaan akibat dari timbulnya keadaan ketidaksetujuan,  kontroversi dan pertentangan di antara dua atau lebih pihak secara terus menerus.

Sedangkan menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.

Konflik itu sendiri merupakan proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif atau akan segera mempengaruhi secara negatif.

Walaupun definisi-definisi konflik yang dinyatakan tersebut memberi pengertian negatif namun terdapat juga konflik yang bermanfaat yaitu konflik yang mendorong kemajuan organisasi dan memperbaiki tahap pencapaian organisasi. Ini berarti konflik tersebut menjadi sumber perubahan yang progresif kepada organisasi. Manakala konflik tidak bermanfaat yaitu konflik yang menghalangi unsur-unsur positf dalam  menuju  pencapaian tujuan organisasi.

Ada tiga kelompok besar yang disebut sebagai sumber konflik di tempat kerja, yaitu konflik karena kesalahpahaman ketika berkomunikasi (cara berbicara, sikap, dan alat komunikasi misalnya), karena perbedaan individu (kepentingan, nilai, pengalaman, dan lain-lain), dan karena pekerjaan itu sendiri (jenis kerja, penggunaan fasilitas tempat kerja, pembagian tugas, dan sebagainya).

Baik dan Buruknya sebuah Konflik ditempat Kerja

Tempat kerja berbeda dengan sekolah atau perguruan tinggi. Tidak semua rekan kerja dapat menjadi teman kita dan setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda. Ketika perbedaan tercipta dan tidak ada yang dapat menyesuaikan dirinya, maka konflik akan terjadi. Pada akhirnya, faktor ini yang menyebabkan seseorang malas untuk bekerja.

Berbahayakah konflik di tempat kerja? Berbagai jawaban pasti muncul seperti berbahaya atau tidak berbahaya. Konflik merupakan sebagian dari pengalaman hubungan antarpribadi (interpersonal experience). Karena  tidak dapat dihindari, maka sebaiknya konflik dikelola dengan efektif, sehingga dapat bermanfaat dan dapat menciptakan perbedaan serta pembaharuan ke arah yang lebih baik dalam organisasi. .Ada pihak yang mengatakan bahwa konflik itu negatif dan merusak organisasi. Konflik sebenarnya bisa memberikan manfaat kepada organisasi. Sebagai contoh pengembangan konflik yang positif dapat digunakan oleh organisasi bagi memperbaiki kelemahan yang ada.

Penyebab terjadinya Konflik

Ilustrasi-masalah-di-tempat-kerja

 

  • Komunikasi yang Buruk

Survey membuktikan bahwa lebih dari 70% masalah yang terjadi ditempat kerja, disebabkan oleh Komunikasi yang buruk.

Hubungan antara diri sendiri dan orang lain tidak bisa dipisahkan dengan komunikasi. Komunikasi yang buruk masih menjadi penyebab utama terjadinya kesalahpahaman yang berujung pada konflik di tempat kerja. Misalnya saja, pada sebuah kasus, seorang manajer harus menginstruksikan pekerjaan kepada seseorang dalam timnya.

Namun, orang tersebut sedang berhalangan hadir dan manager tersebut sangat sibuk sehingga memutuskan untuk memberitahukan detail pekerjaan pada rekan satu tim yang bertugas menangani hal lainnya. Walau terlihat sepele, namun gaya komunikasi seperti ini dapat dikatakan sangat buruk. Mengapa? Karena karyawan yang seharusnya mengerjakan tidak mendapatkan instruksi langsung, bisa jadi ada detail yang terlupakan sehingga memicu konflik.

Dari sini bisa terlihat bahwa masalah selanjutnya yang akan timbul adalah produktivitas menurun karena miskomunikasi. Jadi, saat Anda membutuhkan bantuan bawahan untuk mengerjakan sesuatu, usahakan selalu berbicara dengannya langsung sehingga mengurangi terjadinya miskomunikasi dan kesalahpahaman interpretasi.

·        Perbedaan Kepribadian

Penyebab konflik di tempat kerja selanjutnya adalah perbedaan kepribadian dan karakter tiap-tiap karyawan. Apalagi di Indonesia dengan beragamnya suku bangsa, agama, ras, perbedaan latar belakang dan tempat seseorang dibesarkan bisa menjadi pemicu terjadinya konflik.

Contoh-konflik-karyawan

Sederhananya saja, gaya bicara seseorang yang berbeda dengan lingkungan tempat Anda dibesarkan dapat menyinggung Anda. Misalnya, nada bicara dia terlalu keras dan terlihat seperti orang yang sedang marah. Padahal di beberapa tempat terutama Sumatera, hal tersebut adalah sesuatu yang lumrah.

Kunci dari mengatasi hal ini adalah saling menghargai dan tidak terlebih dahulu menghakimi rekan kerja yang berbeda kepribadian dan karakter dengan Anda. Kenali orang lebih jauh, Anda akan menyaksikan bahwa perbedaan dapat menjadi berkah dan membuat lingkungan kerja lebih berwarna.

·        Perbedaan Nilai dan Prinsip

Tidak banyak yang tahu bahwa di negara lain seperti Jerman misalnya, konflik jarang terjadi dikarenakan perbedaan nilai dan prinsip. Kuncinya hanya satu, setiap orang tidak mengusik nilai dan prinsip yang dianut orang lain. Apalagi berusaha memaksakan prinsip pribadi untuk rekan kerja.

Berbeda halnya dengan di Indonesia yang masyarakatnya sangat beragam dilihat dari suku, ras, agama, serta usia. Perbedaan prinsip dan nilai yang dianut bisa menjadi masalah bagi orang tertentu. Dari sisi usia, pekerja yang lebih muda mungkin belum sematang pekerja yang sudah lebih banyak pengalamannya dalam memahami nilai-nilai pada perusahaan.

Ketika para karyawan gagal untuk menghadapi perbedaan dengan saling bertoleransi, maka akan muncul konflik yang menyinggung prinsip pribadi seseorang. Saat hal ini terjadi, hanya rasa saling menghormati antar pegawai yang mampu menghindarkan konflik untuk berkembang lebih jauh.

·        Kompetisi

Kompetisi kerja sebetulnya diperlukan untuk menciptakan tempat kerja yang memiliki semangat tinggi dan tingkat produktivitas baik pula. Namun, jika dilakukan secara tidak sehat, kompetisi akan membuat konflik antarkaryawan.

Beberapa perusahaan terlalu menekan karyawannya untuk saling berkompetisi dengan kuat, dan produktivitas karyawan dikaitkan dengan tingkat kenaikan gaji. Berhubungan dengan gaji, tentunya setiap karyawan akan melakukan berbagai cara untuk memenangkan kompetisi, termasuk dengan cara yang tidak sehat.

Bahkan lebih buruknya, para pegawai menjadi sangat individualis dan tidak bisa bekerja dalam tim.

Penyebab konflik di tempat kerja yang satu ini dapat diatasi dengan membuat kompetisi tidak terlalu kaku, menciptakan kultur kepemilikan perusahaan bagi tiap-tiap karyawan, dan lebih mementingkan tujuan bersama.

  • Sistem Organisasi yang Tidak Efektif

Setiap perusahaan tentunya memiliki sistem organisasi yang mengatur alur instruksi pekerjaan. Jika sistem organisasi tersebut tidak efektif, dapat dipastikan hal tersebut menjadi pemicu konflik. Contoh sistem organisasi yang tidak efektif adalah:

a. Deskripsi pekerjaan (Job Description) tidak jelas dan tumpang tindih

b. Pimpinan tidak ditempati orang yang tepat (Pimpinan yang tidak efektif)

c. Alur koordinasi terhambat

d. Sumber daya tidak selaras dengan strategi perusahaan

e. Jenjang karier tidak jelas

  • Kurangnya Rasa Persaudaraan

Walaupun bekerja di bawah satu atap yang sama, seseorang bisa saja tidak benar-benar mempunyai teman yang benar-benar tulus. Kurangnya rasa persaudaraan dapat memicu konflik seperti permusuhan antarkaryawan. Untuk memupuk rasa persaudaraan di tempat kerja, ada banyak hal yang bisa dilakukan, seperti mengobrol dengan ramah, berinteraksi di sepulang kerja untuk bersenang-senang, dan mengajak orang lain mengobrol di luar topik pekerjaan saat jam istirahat.

Nonton bareng, ngopi bareng, makan-makan bersama mungkin akan menjadi salah satu solusinya.

  • Titik Tekanan

Di setiap tempat kerja, seringkali seorang karyawan mendapatkan kritik yang dapat memicu terjadinya konflik. Mengapa kritik dapat menjadi penyebab konflik di tempat kerja?

Karena setiap orang memiliki titik tekanan tertentu atau suatu hal yang dapat menjadi trigger dirinya bereaksi terhadap situasi tertentu. Terutama jika disulut dengan kata-kata yang membangkitkan emosi, misalnya saja dikritik dengan sebutan ‘malas’.

Selain itu, tidak ada orang yang ingin dirinya terus ditekan atau mungkin selalu dipersalahkan ketika sudah melakukan pekerjaannya sesuai dengan ketentuan. Jadi berhati-hatilah dalam berucap dan merespon rekan kerja. Jangan sampai Anda membawanya ke titik tekanan yang membuatnya bereaksi dan memulai konflik.

·        Masalah Pribadi

Setiap karyawan tentunya memiliki masalah pribadi yang berbeda-beda. Tanpa masalah, rasanya seseorang tidak akan benar-benar hidup karena masalah adalah bagian dari hidup.

Beberapa tanda-tanda seseorang memiliki masalah pribadi adalah sering datang terlambat ke tempat kerja, kurang produktif, mengambil waktu istirahat terlalu lama, sering izin karena sakit, atau sering gagal menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat waktu.

Jika Anda memiliki masalah pribadi yang mengganggu proses bekerja, langkah yang harus diambil secara cepat adalah mengomunikasikannya dengan atasan Anda. Jelaskan masalah yang ada dan diskusikan solusinya. Namun jika Anda mengidap penyakit tertentu, cari tahu juga batas izin yang diberikan perusahaan untuk tidak masuk karena proses penyembuhan.

Hal ini akan menghindari konflik dengan memangkas pikiran negatif rekan kerja, serta menghindari Anda dari pemecatan.

·        Pengalaman Buruk Sebelumnya

Berganti-ganti tempat bekerja atau dimutasi ke bagian lain sudah menjadi hal yang umum. Namun  pengalaman buruk di tempat kerja sebelumnya dapat menjadi penyebab konflik di tempat kerja yang baru.

Pengalaman akan mempengaruhi seseorang dalam bertindak dan bereaksi. Ketika Anda memiliki pengalaman buruk dengan manajer atau pimpinan sebelumnya misalnya, Anda bisa saja berpandangan manajer yang sekarang sama buruknya dengan manajer Anda sebelumnya.

Namun, ketahuilah bahwa setiap orang berbeda-beda. Manajer di kantor sebelumnya belum tentu sama dengan yang saat ini memimpin Anda. Teruslah beradaptasi dan bertindak dengan cerdas untuk menghindari konflik.

·        Situasi Panik

Dalam situasi panik, seseorang biasanya akan melakukan tindakan tanpa pikir panjang dan mementingkan diri sendiri. Baru setelah kondisi panik selesai, ia akan menyadari bahwa keputusan yang dibuatnya adalah keputusan yang penuh asumsi dan belum tentu kebenarannya.

Nah, jika Anda sedang panik di tempat kerja, tenangkan diri sejenak dan usahakan tidak berkata dengan nada tinggi kepada rekan kerja. Minumlah segelas air mineral atau pergilah ke luar ruangan sejenak untuk menenangkan diri. Baru setelah rasa panik berkurang, pikirkan dengan jernih langkah-langkah yang harus dijalankan.

·        Pekerjaan di Luar Ekspektasi

Masalah di tempat kerja yang bisa menimpa siapa pun adalah pekerjaan yang tidak sesuai dengan ekspektasi Anda saat melamarnya atau mutasi pekerjaan yang sangat tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan atau pekerjaan yang baru Anda rasakan kurang prestige dibanding dengan pekerjaan Anda sebelumnya.

Misalkan pada tahap rekrutmen Anda ingin ditempatkan di bagian penjualan, namun berakhir dengan mengatur spreadsheets setiap harinya.

·        Bos Tidak Melihat Hal yang Telah Anda Kerjakan

Anda sudah bekerja mati-matian untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau memenangkan hati para klien pula. Namun, tampaknya bos Anda tidak melihat bahwa peningkatan yang baik tersebut adalah berkat usaha keras Anda.

Hal yang sangat lumrah jika bos Anda ingin mengetahui pencapaian Anda, namun, realitanya sangat sedikit yang dapat mengetahui dengan sendirinya. Banyak kasus yang terjadi biasanya Bos mengetahui dari orang lain. Dan ternyata penilaian tersebut hasilnya negatif, akhirnya Anda pun mulai berasumsi bahwa informasi itu didapatkan dari seseorang yang sedang bermasalah dengan Anda. Disinilah konflik mulai terjadi.

Anda tidak dapat duduk diam dan mengharapkan bos Anda memuji keberhasilan Anda.

 

Cara Mengatasi dan Mencegah Terjadinya Konflik

Apabila konflik sudah terlanjur terjadi maka yang harus kita lakukan adalah :

  1. Meminta maaf

Adalah langkah pertama yang perlu dilakukan ketika kita melakukan kesalahan atau terjadi kesalahpahaman terhadap rekan kerja. Tidak perlu menunggu rekan kerja yang meminta maaf, namun kita harus melakukannya lebih dulu, baik salah ataupun tidak. Lebih cepat adalah lebih baik, sehingga konflik tidak akan membesar.

  1. Mencari tahu penyebab konflik.

Bila kita merasa ada sesuatu yang mengakibatkan hubungan kita dengan rekan kerja memburuk, segeralah cari tahu penyebabnya. Tanyakan kepada rekan kerja tentang kesalahan yang telah kita perbuat. Dengan ini pula, kita dapat memperbaiki kesalahan dan tidak menimbulkan konflik yang semakin besar.

  1. Belajar Mendengarkan.

Ketika diberikan kesempatan untuk berbicara, berikan waktu untuk  rekan kita menjelaskan semua yang ia ingin katakana. Kita cukup diam dan mendengarkan, hingga sampai waktunya kita untuk menyampaikan yang ingin dikatakan.

  1. Melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Untuk menyelesaikan konflik secara baik, cobalah untuk melihat situasi dari berbagai sudut pandang. Setelahnya, kita akan lebih memahami serta mendapatkan solusi paling tepat untuk menyelesaikan masalah.

  1. Memikirkan konsekuensi atau resiko dari sebuah konflik.

Jangan lupa untuk memikirkan konsekuensi dari semua konflik, karena biasanya dapat menimbulkan hal yang sangat buruk. Pikirkan dampak yang akan terjadi pada diri kita sendiri dan rekan kerja. Biarkan pula orang lain menyadari bahwa konsekuensi dari sebuah konflik tidaklah mudah.

  1. Ciptakan Suasana Positif

Anda pasti pernah merasakan kehadiran orang yang ceria begitu bermakna di tempat kerja. Oleh karena itu, tirulah keceriaan tersebut dengan berperilaku secara menyenangkan dan positif sehingga orang pun enggan berkonflik dengan diri Anda.

Sekalipun ada selisih pendapat, pertahankan pendapat Anda dengan bahasa yang sopan tanpa menjatuhkan orang lain.

Pendeknya, saat Anda berlaku positif, dijamin lebih sedikit kemungkinan orang membenci Anda dan semakin sedikit konflik yang tercipta.

  1. Menerima Perbedaan Karakter

Setiap orang tumbuh di lingkungan berbeda yang sangat beragam. Prinsip dan nilai-nilai yang dianut tiap orang pun berbeda.

Tidak heran, menurut sebuah penelitian, 49% konflik di tempat kerja disebabkan perbedaan karakter dan prinsip individu-individu di dalamnya.

Untuk menghindari konflik, pahamilah bahwa setiap orang unik dan terimalah perbedaan karakter rekan kerja.

Misalnya, jika ada rekan kerja yang mengajak Anda untuk memboikot salah seorang rekan lainnya karena perbedaan prinsip, usahakan tolak dengan halus.

  1. Jangan Terjebak Perilaku Emosional

Beberapa orang dilahirkan untuk mendapatkan hal yang diinginkannya dengan menunjukkan emosi berlebih. Misalnya, dengan mengeluarkan air mata, marah-marah, atau menunjukkan ketakutannya.

Jika Anda akan membuat sebuah keputusan dan ada satu rekan kerja yang selalu berhasil ‘memaksa’ kehendaknya dengan menangis misalnya, coba berikan waktu kepadanya untuk menghirup udara segar sejenak.

Dengan kata lain, beri dia waktu sampai rasa emosional tersebut hilang sehinga dapat berpikir lebih jernih.

  1. Berkomunikasi dengan Santun

Seperti kata sebuah peribahasa, perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan. Prinsip yang sama berlaku pula untuk menghindari konflik di tempat kerja.

Misalnya, Anda seorang manajer muda. Ketika Anda ingin bawahan Anda melakukan suatu pekerjaan, katakan padanya bahwa Anda membutuhkan kerja samanya.

Hal ini dapat lebih baik dibandingkan dengan langsung menginstruksikan apa-apa yang harus dikerjakan. Mengapa? Karena Anda akan terlihat memiliki karakter bossy yang bisa menjadi awal permulaan konflik.

Perhatikan pula cara berkomunikasi dengan e-mail atau media sosial seperti Whatsapp. Kebanyakan orang tidak memiliki kemampuan komunikasi tertulis yang baik, sehingga kesalahpahaman banyak terjadi.


 

  1. Ketahui Apa yang Penting Bagi Orang Lain

Konflik dapat bermula dari hal-hal kecil yang Anda pikir sepele, namun bagi orang lain adalah hal yang penting.

Misalnya saja, mengambil suatu makanan milik rekan kerja Anda yang tersedia kulkas kantor. Sekali saja Anda melakukannya, selamanya nama baik Anda akan tercemar dan bisa memicu konflik di masa depan.

Tidak ada konflik yang besar yang tidak bermula dari hal-hal kecil. Ketahuilah apa-apa saja yang penting bagi orang lain dan jangan melewati batas dengan mengambil hak rekan kerja.

  1. Berikan Kritik dengan Santun

Kritik bagi rekan kerja tidak bisa dihindari, namun memberikan kritik dapat menjadi pedang bermata dua jika tidak dilakukan dengan santun.

Alih-alih membangkitkan motivasi rekan kerja untuk lebih baik lagi mengerjakan tugasnya, kritik yang diberikan tidak dengan santun dapat membuat konflik berkepanjangan.

Untuk memberikan kritik yang konstruktif dan santun, ada beberapa kiat yang bisa Anda lakukan yaitu:

  • Beri kritik secara pribadi, jangan di depan banyak orang sehingga mempermalukan yang diberi kritik
  • Mulailah dengan mengungkit hal positif yang sudah dilakukan dan lanjutkan dengan brainstorming mengenai hal-hal yang masih bisa diperbaiki
  • Jangan mengkritik dengan membandingkan hasil pekerjaan dia dengan yang lainnya
  • Berikan kritik secara spesifik dalam waktu yang tepat
  1. Dahulukan Dukungan Dibanding Kritikan

Ilustrasi-saling-mendukung

Berbagai masalah dapat terjadi di tempat kerja, seperti hasil kerja yang kurang maksimal, deadline yang tidak terpenuhi, dan sebagainya.

Ketika hal-hal yang dapat memicu konflik ini terjadi, tahan terlebih dahulu diri Anda untuk mengkritik rekan kerja.

Sebaliknya, cobalah berikan dukungan kepadanya, misalnya dengan bertanya apakah ada masalah pribadi yang membuatnya gagal mencapai target pekerjaan.

Cara Anda untuk menangani hal-hal pemicu konflik ini sangat menentukan apakah selanjutnya akan lebih banyak konflik atau berakhir ketika Anda tangani.

  1. Hargai Pendapat dan Prinsip Rekan Kerja

Kebanyakan orang tidak bisa menghargai prinsip dan pendapat rekan kerja karena mereka tidak begitu paham bagaimana mengomunikasikan hal tersebut.

Beberapa orang juga menilai pendapat dan prinsip rekan kerja yang berbeda dapat membuat prinsip dan pendapat sendiri tersisihkan.

Satu halnya adalah pemupukan rasa toleransi dan pemahaman bahwa tiap orang tumbuh dengan caranya masing-masing, bahkan sepasang kembar identik pun kepribadiannya tentu berbeda.

Lebih banyaklah mendengarkan dibanding menyerang pendapat rekan Anda. Orang yang bisa menghargai pendapat dan prinsip orang lain adalah orang yang rajin mendengarkan dibanding bicara.

  1. Jangan Menghakimi di Depan Umum

20ad2a6

Pada dasarnya tak ada seorangpun yang mau dipersalahkan.

Langkah selanjutnya untuk menghindari konflik di tempat kerja adalah dengan tidak menghakimi seseorang di depan umum. Karena hal tersebut akan membuatnya sakit hati atau dendam.

Bayangkan saja jika hal ini terjadi pada Anda. Bukannya terpicu menjadi lebih baik, Anda akan merasa malu akibat dihakimi di depan umum.

Kondisi tidak mengenakkan ini akan menjadi ingatan yang buruk bagi Anda. Cepat atau lambat, hal tersebut menyebabkan konflik jangka panjang

  1. Libatkan Tim dan Berikan Informasi Memadai

Cara Anda melibatkan tim dan selalu memberikan informasi mengenai kemajuan pekerjaan adalah hal yang sangat penting untuk menghindari konflik di tempat kerja.

Sederhanya, jika Anda tidak berkomunikasi dengan intens, kemungkinan akan terdapat rumor dan konflik pun mulai muncul. Jadi, libatkan rekan kerja untuk setiap proyek yang Anda kerjakan. Hindari bekerja sendiri tanpa berkomunikasi dengan rekan kerja.

Di bawah perusahaan yang sama, maka pekerjaan Anda harus harmonis dengan sesama rekan kerja, bukan?

  1. Tinggalkan Masalah Pribadi

Pegawai perusahaan dibayar untuk bekerja di waktu yang sudah ditentukan pada kontrak kerja.

Selama waktu bekerja tersebut, hindari untuk membawa atau memikirkan masalah pribadi, karena tentunya Anda tidak dibayar untuk itu. Hindari juga menyebarkan gosip, fitnah, atau berita bohong (hoax) pada rekan kerja yang tidak disukai.

Buktikan bahwa Anda cukup profesional untuk memisahkan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan.

  1. Selesaikan Masalah Kecil Secepat Mungkin

Berbagai masalah kecil dari mulai kerja sama tim yang kurang maksimal hingga masalah organisasi perusahaan dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar jika tidak segera diselesaikan secepat mungkin.

Untuk menyelesaikan masalah, kuncinya hanya satu, yaitu sempatkan dan sediakan waktu untuk mengobrol dan membahas tentang solusi permasalahan yang ada.

Jangan hanya diam dan terus memendam hingga akhirnya masalah kecil terlambat tertangani dan sudah menjadi masalah yang besar.

Didalam hubungan komunikasi di suatu lingkungan kerja atau perusahaan konflik antar individu akan sering terjadi. Konflik yang sering terjadi biasanya adalah karena masalah komunikasi yang kurang baik. Sehingga cara mengatasi konflik dalam perusahaan harus benar-benar dipahami management inti dari perusahaan, untuk meminimalisir dampak yang timbul.

Permasalahan atau konflik yang terjadi antara karyawan atau karyawan dengan atasan yang terjadi karena masalah komunikasi harus di antisipasi dengan baik dan dengan system yang terstruktur. Karena jika masalah komunikasi antara atasan dan bawahan terjadi bisa-bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya mogok kerja, bahkan demo.

Sehingga untuk mensiasati masalah ini bisa dilakukan dengan berbagai cara.

  1. Membentuk suatu system informasi yang terstruktur, agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi. Misalnya, dengan membuat papan pengumungan atau pengumuman melalui loudspeaker.
  2. Buat komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan menjadi lancer dan harmonis, misalnya dengan membuat rapat rutin, karena dengan komunikasi yang dua arah dan intens akan mengurangi masalah di lapangan
  3. Beri pelatihan dalam hal komunikasi kepada atasan dan karyawan, pelatihan akan memberikan pengetahuan dan ilmu baru bagi setiap individu dalam organisasi dan meminimalkan masalah dalam hal komunikasi.

 

Konflik dalam perusahaan juga sering terjadi antar karyawan, hal ini biasanya terjadi karena masalah diluar perusahaan, misalnya tersinggung karena ejekan, masalah ide yang dicuri, dan senioritas. Perusahaan yang baik harus bisa menghilangkan masalah senioritas dalam perusahaan. Hal ini dapat meminimalisir masalah yang akan timbul, kerena dengan suasana yang harmonis dan akrab maka masalah akan sulit untuk muncul.

 

Strategi penyelesaian konflik

Pendekatan penyelesaian konflik oleh pemimpin dikategorikan dalam dua dimensi ialah kerjasama/tidak kerjasama dan tegas/tidak tegas. Dengan menggunakan kedua macam dimensi tersebut ada 5 macam pendekatan penyelesaian konflik ialah :

  1. Menghindari terjadinya konflik

Menghindari konflik dapat dilakukan jika isu atau masalah yang memicu konflik tidak terlalu penting atau jika potensi konfrontasinya tidak seimbang dengan akibat yang akan ditimbulkannya.

Penghindaran merupakan strategi yang memungkinkan pihak-pihak yang berkonfrontasi untuk menenangkan diri. Manajer yang terlibat didalam konflik dapat menepiskan isu dengan mengatakan “Biarlah kedua pihak mengambil waktu untuk memikirkan hal ini dan menentukan tanggal untuk melakukan diskusi”

  1. Mengakomodasi keluhan dan/atau ide

Memberi kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi pemecahan masalah, khususnya apabila isu tersebut penting bagi orang lain. Hal ini memungkinkan timbulnya kerjasama dengan memberi kesempatan pada mereka untuk membuat keputusan. Karyawan yang menjadi bagian dalam konflik dapat mengakomodasikan pihak lain dengan menempatkan kebutuhan pihak lain di tempat yang pertama.

  1. Kompetisi

Gunakan metode ini jika anda percaya bahwa anda memiliki lebih banyak informasi dan keahlian yang lebih dibanding yang lainnya atau ketika anda tidak ingin mengkompromikan nilai-nilai anda. Metode ini mungkin bisa memicu konflik tetapi bisa jadi merupakan metode yang penting untuk alasan-alasan keamanan.

  1. Kompromi atau Negosiasi

Masing-masing memberikan dan menawarkan sesuatu pada waktu yang bersamaan, saling memberi dan menerima, serta meminimalkan kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan semua pihak.

  1. Memecahkan Masalah atau Kolaborasi

Pemecahan sama-sama menang dimana individu yang terlibat mempunyai tujuan kerja yang sama.Perlu adanya satu komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan satu sama lainnya.

Mengendalikan konflik berarti menjaga tingkat konflik yang kondusif bagi perkembangan organisasi sehingga dapat berfungsi untuk menjamin efektivitas dan dinamika organisasi yang optimal. Namun bila konflik telah terlalu besar dan disfungsional, maka konflik perlu diturunkan intensitasnya, antara lain dengan cara :

  1. Mempertegas atau menciptakan tujuan bersama. Perlunya dikembangkan tujuan kolektif di antara dua atau lebih unit kerja yang dirasakan bersama dan tidak bisa dicapai suatu unit kerja saja.
  2. Meminimalkan kondisi ketidak-tergantungan. Menghindari terjadinya eksklusivisme diatara unit-unit kerja melalui kerjasama yang sinergis serta membentuk koordinator dari dua atau lebih unit kerja.
  3. Memperbesar sumber-sumber organisasi seperti : menambah fasilitas kerja, tenaga serta anggaran sehingga mencukupi kebutuhan semua unit kerja.
  4. Membentuk forum bersama untuk mendiskusikan dan menyelesaikan masalah bersama. Pihak-pihak yang berselisih membahas sebab-sebab konflik dan memecahkan permasalahannya atas dasar kepentingan yang sama.
  5. Membentuk sistem banding yang representatif, dimana konflik diselesaikan melalui saluran banding yang akan mendengarkan dan membuat keputusan. Yang bisa diterima oleh semua pihak.
  6. Pelembagaan kewenangan formal, sehingga wewenang yang dimiliki oleh atasan atas pihak-pihak yang berkonflik dapat mengambil keputusan untuk menyelesaikan perselisihan.
  7. Meningkatkan intensitas interaksi antar unit-unit kerja, dengan demikian diharapkan makin sering pihak-pihak berkomunikasi dan berinteraksi, makin besar pula kemungkinan untuk memahami kepentingan satu sama lain sehingga dapat mempermudah kerjasama.
  8. Me-redesign kriteria evaluasi dengan cara mengembangkan ukuran-ukuran prestasi yang dianggap adil dan acceptable dalam menilai kemampuan, promosi dan balas jasa.
  9. Motivasi, Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan. Dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi. .Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya.

Demikian ulasan kami, semoga bermanfaat.

Salam Sukses , Damai, Sehat dan Sejahtera

Sumber materi :

  1. BARBARA MITCHELL and CORNELIA GAMLEM, The Essential Workplace Conflict Handbook
  2. https://www.scribd.com/doc/14009249/Konflik-di-tempat-kerja
  3. http://www.duniakaryawan.com/masalah-di-tempat-kerja/
  4. http://ekoriyadi384.blogspot.co.id/2013/12/konflik-dalam-perusahaan.html
  5. http://intisari.grid.id/Career/Bagaimana-Menyelesaikan-Konflik-Di-Tempat-Kerja
  6. http://www.duniakaryawan.com/menghindari-konflik-di-tempat-kerja/
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s