PARENTING

APA UNTUNGNYA BAGI ORANG TUA YANG MEMAKSAKAN KEHENDAK KEPADA SANG ANAK ?

 

Sebuah kisah inspiratif tentang kehidupan seorang GRAB Driver, sebut saja namanya Eko (Bukan nama sebenarnya). Yang berhasil keluar dari belenggu pikiran negatif tentang Ayahnya yang sering memaksakan kehendak untuk karier dan kehidupannya.

Kisah ini dimulai saat Saya berada di Yogyakarta untuk menghadiri sebuah workshop tentang Effective Coaching “Upaya Menjembatani Komunikasi Antar Generasi dan Meningkatkan Kinerja Organisasi” yang diadakan oleh sebuah Universitas Islam di Yogyakarta (sebut saja Universitas Ahmad Dahlan) yang bekerja sama dengan ICF (International Coach Federation)

Setelah selesai acara Saya harus segera kembali ke tempat saya menginap yaitu didaerah Goden Km 9. Karena belum begitu memahami tentang Yogyakarta, maka saya putuskan untuk memesan GRAB CAR (Sebenarnya saya ingin memakai Gojek tapi karena saya tidak punya aplikasinya, dan diarea itu signal koneksi internet nya kurang bagus, sehingga saya juga tidak bisa download aplikasinya).

Setelah diproses oleh GRAB, akhirnya dapatlah salah satu GRAB Driver yang dekat dengan lokasi saya.

Singkat cerita saya pun segera naik dan kami pun berangkat meninggalkan lokasi menuju tempat penginapan yang saya tuju.

Selama dalam perjalanan sang driver kayaknya sangat ramah. Dia bertanya “Apakah Bapak Dosen di situ?”. Dan saya jawab “bukan, saya hanya peserta workshop yang diadakan oleh Fakultas Psikologi”. jawab saya dengan santai. Singkat cerita pembicaraan berlanjut.

Drver : “Bapak seorang psikolog?”

Saya : “Bukan, saya sebenarnya orang teknik electro?”

Driver : “lho Teknik Electro ? kok bisa di Psikologi?” hehe… penasaran nih.

Saya : “Yaaa… nasib saja yang membawa saya kesini, makanya saya harus banyak belajar” jawabku enteng dengan sedikit senyuman. Dan saya balik bertanya pada Dia. “Kalo Mas dulu lulusan apa ?” Dia jawab “Saya dulu Manajemen pak”.

“Dan sekarang Mas jadi GRAB Driver ? ini Cuma sambilan apa memang perkerjaan Mas ?” tanyaku seolah-olah penasaran dengan pekerjaannya.

“Yaaa… ini pekerjaan saya pak, sama seperti Bapak, nasib yang membawa saya kemari pak..” jawabnya sambil tertawa. “Hahahaaaaa…. sama dong kalo gitu…?” jawabku seolah-olah aku menyetujui kalo kami senasib.

“Lha terus ijazah nya sekarang dkemanakan?” tanyaku lebih dalam.

“Yaaa… disimpan aja didalam lemari pak, mau dipake bungkus kacang atau bungkus apa saja lah… wong memang udah gak pernah saya gunakan” jawabnya seolah-olah merasa putus asa dengan ijazah yang dia peroleh namun ternyata tidak bisa digunakan untuk mencari pekerjaan yang sesuai.

Saya semakin penasaran dan rasanya ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupan masa lalunya, mengapa ijazah yang telah dia perjuangkan selama 5 tahun katanya, sia-sia begitu saja, dan hanya disimpan didalam lemari pakaian. Seolah-olah ijazah itu hanya selembar kertas ukuran folio yang nggak ada gunanya.

“kok bisa gitu ? gimana ceritanya?” tanyaku santai seolah-olah aku tidak peduli dengan apa yang terjadi dimasa lalu. Akhirnya dia pun bercerita juga (Alhamdulillah, dalam hatiku, ini yang aku inginkan, mengetahui suatu peristiwa dibalik suatu peristiwa. Yang dalam bahasa NLP nya saya mulai melakukan apa yang disebut sebagai META Model.

Begini ceritanya :

“Bapak saya dulu itu orang nya sangat keras. Tidak ada orang yang berani membantah apalagi menentang kenginannya. Apapun yang dia ucapkan ya harus dilaksanakan. Kalo berani membantah, waah… tau rasa, pasti didamprat habis-habisan.” Katanya begitu. “oooo…. begitu ya”, jawabku sambil manggut-manggut seolah olah aku heran saja. “Terus..?”

Diapun melanjutkan kisahnya.

“Dulu setelah lulus SMP, saya melanjutkan ke STM (sekarang menjadi SMK). Dan setelah lulus STM saya melanjutkan kursus tentang Design Grafis selama setahun, ya setara D1 lah. Setelah lulus D1 mau saya akan melanjutkan ke ISI, tapi Bapak nggak boleh. “

“Pokoknya kamu harus jadi Tamtama” begitu dia menirukan apa yang dikatakan Bapaknya.

“Gimana perasaan mas, saat bapak bilang begitu ?” tanyaku seolah ingin mengetahui lebih dalam tentang perasaannya saat itu.

“Yaa… sedih, yaa.. marah… ya.. takut, pokoknya campur aduk lah.” jawabnya tampak sebel banget gitu.

“Menurut mas, kira-kira kenapa sih bapak menginginkan mas jadi tentara?” tanyaku

“Yaa… mungkin karena rumah saya memang dekat dengan asrama tentara, atau apa ya..? nggak tau juga sih ?”

“Emang mas nggak tanya sama bapak, mengapa harus jadi tentara?”

“Nggak sih…. nggak berani”.

“Kenapa…?” tanyaku lebih penasaran.

“Lha bapak itu kan bukan type orang yang bisa diajak komunikasi, pokoknya apa yang dia inginkan, ya harus dilaksanakan”. jawabnya agak sedikit sebel.

“ooo… begitu ya…? terus kenapa mas nggak mau jadi tentara, apa yang tidak mas sukai kalo jadi tentara?” tanyaku lagi untuk memperjelas mengapa dia tidak mau jadi tentara.

“Kebetulan rumah saya berada tepat didepan markas Tentara. Jadi tiap pagi saya melihat para Tentara yang pangkatnya Tamtama, kerjaannya tiap pagi hanya membersihkan lapangan. Waah… saya nggak mau dong, kalo kerjaannya Cuma begitu.” Katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala dan suaranya agak mulai serak. Seolah-olah dia merasa sedih saat itu.

“Oooo… begitu… jadi menurut mas, kalo seorang Tentara apalagi pangkatnya Cuma Tamtama, kerjaannya cuma begitu-begitu aja…? “

Jalanan sore itu di Yogyakarta macet total, hampir saja kami tak bisa bergerak sedikitpun. Maklum jam tersebut adalah jam pulang kantor dan kebetulan juga bertepatan dengan malam minggu.

“Saya nggak mau pak, mosok jadi Tentara kerjaannya Cuma bersih-bersih rumput ? kan nggak lucu. Pokonya saya nggak mau. Pokoknya saya harus tetap kuliah di ISI karena saya merasa punya bakat seni, terutama seni lukis. Disitulah akhirnya Bapak saya marah-marah kepada saya. Saya disumpah-sumpahin.” Katanya sambil  terus menggelengkan kepala.

“Bapak tau nggak apa kata bapak saya waktu itu?”

“Apa ?”

“Kalo Cuma pinter lukis aja, mau jadi apa kamu ? tidak ada seorang pelukis yang hidupnya mapan. Paling ya Cuma lontang lantung gambar sana gambar sini.” Begitu kata Bapak saya.

“Kalo menurut mas, apa yang dikatakan bapak itu bener atau salah ?” tanyaku memancing jawaban dari dia.

“Ya.. nggak bener lah Pak, emang semua tergantung dari orangnya sih. Tapi banyak juga pelukis yang bisa sukses kan ?” begitu katanya seolah mau membela diri.

“Karena mas tetap ngotot kuliah di ISI, apa yang bapak katakan?”

“Pokoknya kalo kamu tetap mau kuliah di ISI, bapak nggak mau bayarin kuliah kamu. Silahkan kamu cari uang sendiri buat bayar kuliah. Begitu kata bapak saya pak.” Dan saya melihat matanya sedikit berkaca-kaca saat dia mengungkapkan hal itu.

“Terus kamu gimana?” tanyaku. Dan aku juga sedikit menghibur dengan mengatakan “Kadang orang tua memang seperti itu. Dia berusaha yang terbaik bagi anak-anaknya. Cuma sayangnya apa yang terbaik menurut dia memang belum tentu baik juga bagi kita. Dan hal seperti ini sering sih terjadi”.

“Saya nekat pak, tetap kuliah di ISI, meskipun sambil bekerja seadanya yang penting bisa buat makan dan bayar kuliah. Tapi sayang nggak bertahan lama, setelah semester dua, saya nggak bisa melanjutkan dan harus drop Out.”

“Wah eman-eman ya. Terus kamu gimana?” tanya ku.

“Saya stress pak. Pulang ke rumah dimarahin terus sama bapak. Saya ya Cuma lontang-lantung gak jelas arahnya. Akhirnya pelarian saya diminuman keras pak, hampir tiap malam pulang mabuk. Terus dimarahin sama bapak, dihajar juga. Pokoknya hancur dah hidup saya.”

Dan aku lihat ada sedikit air mata yang mulai keluar dari pelupuk matanya. “ehem…” aku sedikit berdehem dan akhirnya aku katakan “yaahh… inilah hidup mas, kadang apa yang kita inginkan tak selamanya bisa kita dapat dengan mudah. Kadang ya harus berbelit seperti itu. Yang penting bagaimana kita bisa memaknai hisup ini, apapun yang terjadi.” Kataku sambil sedikit menghibur.

“Iya sih pak” katanya.

“Terus bapak kamu gimana?” tanyaku semakin penasaran.

“Saya disuruh kuliah jurusan Arsitektur, tapi saya nggak mau juga” katanya.

“Loh kenapa nggak mau ? Bagus kan Arsitektur ?” kataku meyakinkan dia.

“Iya… Cuma dulu bapak saya kan seorang kontraktor, tapi sekarang udah bangkrut. Hutang nya banyak, terus semua barang dijual buat bayar hutang. Saya nggak mau kayak bapak.” Katanya seolah mau berargumentasi dan mencari pembenaran.

“Terus gimana?” tanyaku semakin penasaran aja. “Akhirnya saya disuruh kuliah jurusan Manajemen.”

“Dan kamu mau?” tanya ku. “Ya mau lah pak, meskipun terpaksa, habis mau gimana lagi. Daripada dirumah dimarahi terus. Dan saya terjerumus minuman keras, mendingan kuliah.”

“Ya, baguslah. Dan kamu lulus?” tanyaku. “Ya lulus pak, meskipun harus kuliah sampai lima tahun, tapi Alhamdulillah lulus juga.”

“Terus setelah lulus, kamu nglamar kerjaan kemana aja?” tanyaku.

“Waah… udah nglamar kemana-mana pak, tapi ya itu nggak ada yang mau terima. Boro-boro di test, dipanggil aja enggak.”

“lah emang kenapa?” tanyaku semakin penasaran. Meskipun dalam hatiku berkata pasti nilainya pas-pasan. Heheee… bukan menjudgement tapi biasanya seperti itu.

“Nilainya pas-pasan pak… haha..”katanyanya sambil tertawa kecil.

“Wadooohhh…..” kataku sambil melotot dan ikut tertawa… hahahaaaa.

Tak terasa kami sudah masuk jalan Godean km 2, berarti masih ada 7 km lagi. Masih cukup waktu bagi kami untuk melanjutkan obrolan ini. Karena jalanan masih sedikit macet karena banyaknya traffic light. Dan setiap traffic light selalu saja kena lampu merah.

“Terus kamu kerja apa?” tanyaku santai, sambil sedikit menuap karena mulai terasa kantuk.

“Yaa… kerja apa saja pak, yang penting halal. Begitu ada GRAB, saya langsung daftar jadi GRAB Driver. Hasilnya lumayan sih.”

“Ini mobil kamu sendiri?” tanyaku penasaran. “Bukan pak ini sewa, tapi lamayan lah pak masih dapat untung. Dan sudah hampir dua tahun ini saya jadi GRAB Driver, Alhamdulillah saya sudah punya rumah sendiri, meskipun kecil dan dipedesaan, tapi lumayanlah.”

“Wooow… kereen doong… mobil sewa aja, bisa beli rumah sendiri, apalagi mobil sendiri…. bisa lebih keren kamu.” Kataku berusaha memuji usahanya selama ini. “Hebat kamu…” kataku sambil menepuk pundaknya. Dan wajahnya tampak mulai berseri. Dengan senyuman yang berbeda dari sebelumnya.

“Terus bapak kamu gimana sekarang?” tanyaku lagi.

“Bapak pernah datang kerumah saat kelahiran anak pertama saya. Kan dirumah saya atau istri saya juga nyambi konveksi. Dengan berbekal ketrampilan saya dibidang design grafis, saya mulai usaha konveksi kecil-kecil. Dan Alhamdulillah bisa jalan sampai sekarang.”

“Bapak bilang, oooo… ternyata kamu memang bakat seni ya… ya sudah lanjutkan saja.”

“Telat pak, kenapa nggak dari dulu bilang begitu… hahahahaaa…” diapun tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dan kami berdua pun tertawa bebas.

“Yaahhh… inilah hidup mas, kadang jalan yang harus kita lalui memang seperti ini. Kita manusia Cuma bisa berusaha, tapi Tuhan lah yang menentukan.” Kataku menghibur.

Dan tiba-tida dari sound system yang ada dimobil terdengan lagunya Bon Jovi “It’s my life…it’s now or never…”

“Kamu dengar lagu ini ? itulah jalan hidup kamu… dinikmati saja. Yang penting never give up…OK ?” kataku sambl kembali menepuk bahunya. Diapun mengangguk “siap pak”.

Tak terasa kamipun sudah sampai di Godean km 9 dan saya membayar 75 ribu rupiah sesuai yang ada diaplikasi GRAB. Sebelum saya turun sang Driver bilang “Terimakasih pak, sudah mau mendengarkan curhatan saya, sudah plong rasanya sekarang, beban yang selama ini saya pegang rasanya sudah lepas semua, plong rasanya pak, terima kasih ya pak” katanya sambil menyalami saya.

“Nggak apa-apa, justru saya yang berterima kasih, kamu sudah percaya sama saya untuk mendengarkan apa yang selama ini menjadi ganjalan dalam hidup kamu. Makasih Mas, semoga kamu lebih sukses, dan jangan lupa untuk selalu bersyukur apapun yang kamu dapatkan. Karena bukan kesuksesan yang bisa membuat kamu bersyukur, tapi kebersyukuran lah yang bisa membuat kamu sukses… never give up… ok?”

“Siap pak, seklai lagi terima kasih…”

Dan kami pun berpisah, dia melanjutkan perjalanan karena baru saja ada pesan masuk kalo ada penumpang lagi yang akan menggunakan jasa GRAB nya.

 

Dari pembicaraan diatas saya sempat berpikir, ternyata kalo saya sebagai orang tua, terlalu memaksakan kehendak kepada anak, entah itu urusan pendidikan, karir dan sebagainya, manakala hal itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh anak, tidak sesuai dengan pasion sang anak, maka yang terjadi adalah keputusasaan.

Disinilah pentingnya komunikasi antar generasi, bagaimana kita sebagai orang tua mampu menjembatani dua keinginan dari dua dunia yang berbeda.

Apa yang kita nilai baik dimasa lalu yang telah kita lakukan ternyata belum tentu baik juga dimasa sekarang.

Perbaiki cara komunikasi Anda dengan Anak, karena pada dasarnya masa depan anak itu ada ditangan mereka sendiri, kita sebagai orang tua hanya menjadi pendorong bagi cita-cita dan impian sang anak untuk mewujudkannya.

 

Semoga bermanfaat, terima kasih kepada sang GRAB Driver atas sharing nya yang sangat bermanfaat.

Semoga Anda bisa meraih mimpi yang telah Anda pahat dipikiran dan tindakan Anda, Amiin.

Advertisements

3 thoughts on “PARENTING

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s