KEKUATAN “MASA LALU”

KEHIDUPAN ANDA HARI INI SANGAT DIPENGARUHI OLEH PENGALAMAN MASA LALU ANDA

Manusia tak dapat lepas dari pengalaman masa lalunya. Meskipun kita kadang mengatakan bahwa masa lalu adalah masa lalu, kita lupakan masa lalu dan kita sambut masa depan, namun pada kenyataannya bahwa kejadian-kejadian penting dimasa lalu sangat mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Kejadian-kejadian ini akan membentuk suatu keyakinan seseorang. Keyakinan ini akan membekas dan terprogram didalam diri seseorang sehingga pada akhirnya akan mempngaruhi perilakunya.

Kejadian penting dimasa lalu yang sangat membekas dan terprogram dalam diri seseorang oleh RH. Wiwoho dalam bukunya Trilogi#2 disebut dengan imprinting (membekas, terprogram). Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Konrad Lorenz (seorang yang terkenal dengan teori Insting nya) yang mempelajari perilaku bebek Eruasia ketika menetas. Ia menemukan bahwa anak bebek akan meng imprint induknya dihari pertama kelahirannya.

122044-004-579DCB3A

Segera setelah menetas, anak-anak bebek itu akan mulai mengamati apa saja yang bergerak, lalu mengikutinya dan menganggapnya sebagai induknya.

Hal inilah yang dilakukan oleh Lorenz, yaitu ketika telur yang dierami secara tiruan menetas, bebek itu menghabiskan beberapa jam pertamanya dengan dirinya sebagai pengganti induknya. Dari hari pertama menetas sampai seterusnya, anak-anak bebek tersebut mengikuti Lorenz tanpa pernah berubah dan menunjukkkan tidak ada pengenalan pada induknya sendiri atau bebek dewasa dari spesies yang sama dengan mereka. Kalau Lorenz berjalan maka anak-anak bebek itupun akan mengikutinya dan menganggapnya sebagai induknya. Bahkan saat Lorenz bangun tidur dipagi hari, ia melihat anak-anak bebek itu tidur memeluk sepatu boot-nya dan bukan sarangnya.Sebagai angsa dewasa, angsa tersebut lebih menyukai didampingi Lorenz dan manusia lainya dibandingkan dengan angsa dari spesiesnya sendiri, dan mereka kadang-kadang memulai perilaku percumbuan dengan manusia.

Konrad Lorenz yakin bahwa imprint terbentuk secara neurologis, pada periode kritis tertentu. Begitu periode kritis itu terlampaui maka apapun yang sudah imprinted (membekas) akan menjadi permanen dan sulit untuk diubah lagi.

Lalu bagaimana dengan imprint dikehidupan Manusia ?

Timothy Leary seorang psikolog dari Harvard yang belakangan dikenal sebagai “guru” LSD (Obat Bius) ditahun 60-an, pernah melakukan penelitian tentang fenomena imprint dalam kehidupan manusia. Ia mengatakan bahwa otak manusia jauh lebih canggih dibanding otak bebek atau hewan lainnya. Pada kondisi tertentu, diperiode kritis lebih awal, sebuah imprint dapat ditelusuri dan bisa di re-imprinted (diprogram ulang).

Imprint dapat berupa kejadian positif yang bisa membentuk keyakinan yang positif dan bermanfaat (empowering belief), tapi juga dapat berupa kejadian traumatis yang bisa menggiring seseorang untuk memiliki keyakinan yang negatif dan menghambat (Limiting Belief). Umumnya meskipun tidak selalu, secara tidak sadar hal ini melibatkan role model atau orang lain yang berpengaruh atau kalau dalam istilah NLP nya Rudy Soegiyono disebut Tokoh otoritas.

JohnBowlby (1907-1990) Seorang psikiater dan psikoanalis, pernah menulis tentang teori kelekatan, Ia menjelaskan bahwa tingkah laku sangat lekat pada anak sudah terprogram secara evolusioner dan instinktif. Sebenarnya tingkah laku kelekatan tidak hanya ditujukan pada anak namun juga pada ibu. Ibu dan anak secara biologis dipersiapkan untuk saling merespon perilaku. Bowlby percaya bahwa perilaku awal sudah diprogam secara biologis. Reaksi bayi berupa tangisan, senyuman, isapan akan mendatangkan reaksi ibu dan perlindungan atas kebutuhan bayi. Proses ini akan meningkatkan hubungan ibu dan anak. Sebaliknya bayi juga dipersiapkan untuk merespon tanda, suara dan perhatian yang diberikan ibu. Hasil dari respon biologis yang terprogram ini adalah anak dan ibu akan mengembangkan hubungan kelekatan yang saling menguntungkan (mutuality attachment). Bowlby juga menyatakan bahwa kita dapat memahami tingkah laku manusia dengan mengamati lingkungan yang diadaptasinya yaitu : lingkungan dasar tempat mereka berkembang.

Imprint dan Belief

Anton (bukan nama sebenarnya) adalah seorang yang hingga usia dewasa nya tidak pernah bisa mengendarai sepeda atau bahkan sepeda motor. Ternyata hal ini disebabkan oleh pengalaman masa kecilnya yang tidak seperti teman-teman sebayanya kala itu. Teman-temannya semua memiliki sepeda mini yang sesuai dengan ukuran anak-anak, sedangkan Anton tidak memilikinya. Meskipun dirumah ada sepeda namun sepeda itu adalah sepeda dewasa milik ayahnya dan itupun jarang berada dirumah karena sering dipakai Ayahnya untuk bekerja.

Pada saat belajar naik sepeda bersama teman-temannya, Anton selalu diketawain oleh teman-temannya, karena sepeda Anton beda dengan milik teman-temannya, maklum sepeda Anton adalah sepeda milik Bapaknya. Dan apa yang selalu dikatakan teman-teman Anton ketika belajar naik sepeda ? “Kamu nggak akan bisa naik sepeda kalo belajar pake sepeda besar…”, “Kamu pasti nggak bisa….. ntar kalo jatuh pasti sakit… soalnya itu sepeda besar…” dan benar juga setiap kali berlatih naik sepeda, Anton selalu saja terjatuh dan mengalami beberapa luka dikakinya. Ditambah lagi luka itu lama banget sembuhnya, sehingga dia tidak dapat melakukan aktivitas untuk beberapa hari.

Beberapa tahun kemudian, setelah Anton dewasa, dia mulai belajar mengendarai sepeda motor, tapi apa yang terjadi? ternyata dia kesulitan untuk bisa mengendarai sepeda motor dan akhirnya jatuh juga dengan luka yang lumayan sakit. Dan setiap kali terjatuh dia selalu teringat kata-kata temannya bahwa dia memang tidak bisa mengendarai sepeda atau sepeda motor. Akhirnya Anton tak mau mencoba lagi untuk belajar mengendarai sepeda atau sepeda motor sampai sekarang.

CTHvpx0U8AAW5t0

Sumber : akun twiter Tarra Budiman @TarraBudiman

Kejadian penting masa lalu yaitu terjatuh dan sakit saat belajar mengendarai sepeda dan kata-kata temannya bahwa dia tidak bisa mengendarai sepeda menjadi imprint negatif di otak Anton.

Seiring bertambahnya usia dan karier Anton merasa tidak nyaman dengan kondisinya sekarang ini karena tidak dapat mengendarai sepeda motor sebagaimana teman-teman sejawatnya. Setiap pulang kerja Anton harus rela berlama-lama menunggu angkutan yang jumlahnya juga sangat sedikit dengan jam operasi yang terbatas pula. Apalagi kalau Anton harus lembur sampai malam, sehingga sudah tidak ada lagi angkutan yang beroperasi (maklum Anton bekerja dikota kecil, bukan kota besar seperti Jakarta yang setiap saat bisa naik angkutan umum), maka Dia harus rela berjalan kaki sampai kepangkalan ojek. Dia mulai berpikir untuk bisa mengendarai mobil. Tapi bagaimana caranya ?

Setiap kali Anton naik angkutan umum, Dia selalu duduk didepan, sambil mengamati bagaimana sang Sopir mengendalikan mobilnya. Mulai dari menginjak pedal kopling, memindah gigi versnelling, melepas lagi pedal kopling, menginjak pedal Gas, dan semua yang ada diruang kemudi Anton perhatikan baik-baik. Sambil membayangkan seolah-olah Anton sudah memiliki sebuah mobil dan sedang pegang kemudi. Hal itu Dia lakukan terus menerus sampai hampir enam bulan lamanya. Dia percaya bahwa suatu saat pasti bisa mengendarai mobil dan memiliki sebuah mobil.

drive

Untuk membulatkan tekadnya, Anton pun segera mendaftarkan kursus stir mobil agar bisa mendapatkan sertifikat mengendarai mobil. Setelah menyelesaikan kursus Dia juga segera membuat SIM-A. Seolah-olah Dia yakin bahwa Dia bisa mengendarai mobil dan segera bisa memiliki sebuah mobil.

Antara percaya dan tidak percaya dengan yang namanya hukum tarik-menarik atau yang lebih dikenal dengan “The Law of Attraction” atau hukum “Ucapan adalah Doa” atau hukum apapun, tiba-tiba Anton dapat bonus dari tempat Dia bekerja dengan jumlah yang cukup untuk membeli sebuah mobil, walaupun hanya mobil bekas.

139490505_1_644x461_timor-s515-cakep-nih-yogyakarta-kota

Sumber gambar : OLX

Antonpun segera membeli sebuah mobil (meskipun bekas), dan Diapun segera mengendarai mobilnya sendiri walaupun pada awalnya masih kurang piawai dan masih harus nabrak sana sini. Namun pada akhirnya apa yang diinginkan Anton tercapai juga.

Anton sudah pulih dari trauma masa lalunya saat mengendarai sepeda, dan sekarang Dia meskipun tetap tidak bisa mengendarai sepeda atau sepeda motor, namun bisa mengendarai mobil.

Dari cerita Anton diatas, benar juga apa yang dikatakan Timothy Leary bahwa imprint pada kehidupan manusia masih bisa diprogram ulang atau di re-imprinted.

Namun semua itu tergantung dari kemauan diri sang manusia itu sendiri dan jangan lupa tergantung pula dari ijin Yang Maha Kuasa.

Yang jadi masalah sekarang bukan Mampu atau tidak mampu, tetapi Mau atau tidak mau.

Salam sejahtera bagi kita semua.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s