Presupposition dari dongeng “Malin Kundang”

bigstock-never-good-enough-concept-45262720“There’s a positive intention behind every behavior” (Selalu ada tujuan Positif dibalik setiap Perilaku)

 

  1. Belief

Kita semua pasti pernah atau bahkan sering mendengar dongeng anak-anak tentang Malin Kundang. Atau bahkan kita juga mungkin pernah menceritakan kepada Anak atau Cucu kita tentang Malin Kundang ? Apa yang Anda pikirkan selama ini tentang si anak yang bernama Malin Kundang ini ?

malin kundang, anak durhaka

(ilustrasi malin kundang. sumber gambar tilulas.com)

Sebagian besar (atau bahkan hampir semua) orang yang pernah saya tanya mengatakan bahwa Malin Kundang adalah “Anak Durhaka”. Setelah dia sukses malah tidak mau mengakui ibunya, kemudian dia dikutuk menjadi batu.

Begitulah cerita/dongeng yang sering kita dengar sejak kita masih kanak-kanak hingga kita dewasa, sehingga membentuk sistem “Belief” didalam otak kita bahwa Malin Kundang itu anak yang durhaka, hanya itu saja.

Apa itu Belief ?

Belief adalah keyakinan atau nilai-nilai yang kita anggap benar. Belief dapat terbentuk dalam sistem saraf bawah sadar kita melalui :

  • Pengalaman yang tertanam dalam otak kita
  • Budaya/kultur tempat kita berkembang
  • Modeling yang tanpa sengaja
  • Umpan balik dari orang lain
  • Pengalaman yang berulang-ulang
  • Kelompok/Komunitas sekitar yang sangat dekat
  • Pengalaman referensial (pengalaman tak terlupakan)
  • Budaya yang terorganisasi
  • Media
  • dll.

Kembali ke masalah dongeng Malin Kundang tadi, karena sejak kecil dan berulang-ulang yang kita terima adalah bahwa Malin Kundang adalah seorang anak yang durhaka, maka kita memiliki sistem belief (keyakinan) bahwa Malin Kundang memang anak yang durhaka.

Kita tidak cukup diberi ruang dan waktu untuk melihat sisi lain dari sang Malin Kundang. Yang kita ketahui hanyalah anak durhaka, itu saja. Nah inilah yang disebut Limiting Bilief. Yaitu sekumpulan belief yang menghambat kita untuk bisa memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang lain.

Sekarang mari kita lihat masalah Malin Kundang ini dari sudut pandang yang lain.

Diatas dikatakan bahwa : “Selalu ada tujuan positif dibalik setiap perilaku” .

Apakah memang benar ada sesuatu yang positif dibalik perilaku Malin Kundang yang durhaka ini ? Berikut kutipan dongeng Malin Kundang yang saya ambil dari : http://dongengterbaru.blogspot.co.id/2015/08/malin-kundang-anak-durhaka.html

Dia bertekad untuk bekerja, merantau dan kelak pulang membawa harta yang banyak untuk ibunya. Hingga pada suatu hari, ada sebuah kapal yang cukup mewah berlabuh. Seperti biasa, malin segera berlari ke kapal bersama para pekerja angkut, karena si malin memang bekerja sebagai kuli panggul bagi para pedagang yang datang untuk membantu ibunya.

Melihat malin yang begitu rajin, sang nahkoda kapal menjadi sangat tertarik. Dia berniat mengajak malin berlayar dan bekerja di kapalnya. Malin pun merasa sangat senang, karena mimpinya untuk berlayar dan merantau ke negeri seberang akan bisa terwujud. Dia langsung berlari pulang untuk meminta izin pada emaknya.”

Dari cuplikan dongen tadi, dapatkah kita menemukan hal positif dari si Malin Kundang ?

  1. Dia bertekad untuk bekerja, merantau dan kelak pulang membawa harta yang banyak untuk ibunya. artinya bahwa Malin Kundang ini memiliki tekad yang luar biasa untuk merubah hidupnya yang miskin dan menderita, yaitu dengan bekerja keras, merantau dan pulang menjadi orang kaya. Dalam bahasa kerennya Dia memiliki Goal.
  2. Melihat malin yang begitu rajin, sang nahkoda kapal menjadi sangat tertarik. artinya bahwa sebenarnya Malin Kundang ini adalah type pekerja yang rajin dan sanggup membuat sang Pimpinan sangat tertarik dengan kinerja nya. Hal inilah yang sekarang ini jarang kita temui. Dalam bahasa kerennya dia punya strategi dan tindakan atau action.
  3. mimpinya untuk berlayar dan merantau ke negeri seberang artinya bahwa Malin Kundang punya mimpi yang sangat luar biasa. Dia ingin berlayar dan merantau kenegeri seberang, dengan harapan pulang akan menjadi orang sukses dan membawa banyak uang.
  4. meminta izin pada emaknya artinya bahwa sebenarnya Malin Kundang ini type anak yang sangat patuh terhadap orang tua. Dia sangat menghargai ibunya, sehingga saat akan pergi keluar negeri dia menyempatkan diri untuk meminta izin pada Ibundanya.

Dari uraian diatas, kalau kita mau jujur atau mau melihat sesuatu kejadian dari sudut pandang yang lain, pasti akan menemukan sisi positif atas suatu tindakan yang selama ini kita percayai sebagai tindakan yang negatif (durhaka).

Sayang hal-hal seperti ini jarang atau bahkan tidak pernah disampaiakn kepada kita dan kitapun menjadi enggan untuk menyampaikannya kepada anak-anak kita. Akhirnya yang diserap oleh otak bawah sadar kita hanyalah hal-hal yang bersifat negatif saja.

Kembali ke masalah dongeng Malin Kundang, yang juga saya ambil dari : http://dongengterbaru.blogspot.co.id/2015/08/malin-kundang-anak-durhaka.html

Menerima perlakuan yang sudah keterlaluan dari anaknya, ibu malin kundang merasa sangat kecewa. Rasa sakit di hatinya sungguh tiada terkira. Akirnya, dia berdo’a pada yang maha kuasa. .”Ya Tuhan.. engkau adalah dzat yang maha adil, dan mendengar setiap do’a hamba mu. Jika benar dia bukan Malin anak ku, maka berilah dia keselamatan dan kebahagiaan. Tapi jika dia benar-benar Malin kundang anak ku yang telah lama pergi, maka aku kutuk dia menjadi batu”.

Mari kita sama-sama merenungi doa dari sang Ibu malin Kundang :

  1. Jika benar dia bukan Malin anak ku, maka berilah dia keselamatan dan kebahagiaan.
  2. Tapi jika dia benar-benar Malin kundang anak ku yang telah lama pergi, maka aku kutuk dia menjadi batu”.

Bagaimana mungkin seorang Ibu justru mendoakan kebaikan bagi orang lain (Jika dia bukan anakku, berilah dia keselamatan dan kebahagiaan) ? padahal dia bukan anaknya ? dan yang lebih tragis lagi justru berdoa keburukan bagi anaknya sendiri (jika benar dia anakku, maka aku kutuk dia menjadi batu) ?

Hal inilah yang sering dan banyak terjadi pada sebagian besar orang tua saat ini, manakala anaknya nggak nurut, bandel, susah diatur, maka yang keluar dari mulutnya adalah “KUTUKAN”. Dan apa yang terjadi ? Persis dengan apa yang terjadi pada Malin Kundang, yaitu dia menjadi seperti apa yang di “KUTUKKAN” oleh sang ibu, yaitu menjadi batu.

Ingat pepatah dibawah ini :

you-are-what-you-speak-think-and-believe

“Anda adalah apa yang Anda katakan, Pikirkan dan Anda percayai”

dan bahwa “Ucapan adalah DOA”

unduhan

Maka sangatlah tidak elok jika sebagai orang tua mengatakan hal-hal yang bersifat negatif apalagi berdoa kepada TUHAN bagi keburukan si anak, naudzubillah, semoga hal ini tidak terjadi pada diri saya dan keluarga saya, dan diri Anda maupun keluarga Anda semua, Amiiin.

Dari ulasan dongen diatas, kita bisa menilai siapa sebenarnya yang durhaka ? Malin ? Ibunya ? atau keduanya ? Wallahu’alam.

Yang penting mari kita belajar untuk selalu berpikir positif terhadap setiap kejadian. Dan bahwa selalu ada tujuan positif dibalik setiap perilaku. Dengan demikian kita akan terhindar dari ucapan atau perkataan atau bahkan doa yang bersifat negatif pula.

Semoga bermanfaat dan salam POSITIF.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s